Cahaya Biru

CAHAYA BIRU




Kotaku merupakan sebuah kota kecil yang damai. Salah satu kota paling damai di negara ini. Tidak seperti kota lain yang menyimpan banyak sekali kasus kejahatan seperti pemerkosaan, pembunuhan, penculikan; di kotaku, jarang ada kasus semacam itu. Kotaku relatif aman, dikarenakan warganya hidup berdampingan selayaknya keluarga.


Di kotaku, terdapat sebuah rumah sakit tua yang ditinggalkan selama bertahun-tahun. Dulu, rumah sakit itu merupakan rumah sakit khusus untuk radioterapi. Namun, setelah beberapa tahun beroperasi, rumah sakit itu mendadak tutup. Banyak isu berembus dari tutupnya rumah sakit itu, mulai dari malapraktik, penjualan organ manusia, dan lain-lain. Namun, semua itu tak pernah terkuak. Apapun yang terjadi, pada akhirnya rumah sakit itu meninggalkan sebuah bangunan tua yang berdiri kokoh dan angkuh, di tengah hamparan tanaman liar dan belukar.


Tidak ada satupun orang yang berani mendekati rumah sakit tua itu, sekalipun ia telah lama tinggal di desa ini. Beragam kisah horor mulai terbentuk, mulai dari seseorang yang melihat perempuan cantik dari dalam rumah sakit saat ia sedang melintas, namun ketika ia lihat lagi perempuan itu telah menghilang tak berbekas; atau kisah malam hari, di mana orang akan mendengar raungan minta tolong dari arah rumah sakit itu; atau cerita-cerita soal hantu korban malapraktik dan kehilangan organ tubuhnya. Orang-orang tua juga mewanti-wanti kami, anak-anak muda, untuk tidak mendekati rumah sakit itu, apalagi pergi ke dalamnya. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi jika kami masuk ke dalamnya, bisa-bisa tidak keluar hidup-hidup.


Kembali lagi ke kotaku. Kotaku memang kota yang damai, namun kotaku adalah kota yang miskin. Jadi, bagiku, tidak ada hiburan yang lebih asyik selain bermain di luar, bersama anak-anak tetangga: Pablo, Juan, Roberto, Alves, dan Carlos. Biasanya, kami bermain petak umpet, atau bermain bola di bawah siraman cahaya bulan, atau permainan yang asyik. Kadangkala kami bermain hingga tak mengenal waktu, hingga orang tua kami menjemput kami dengan hadiah berupa jeweran.


Hingga tibalah malam itu. Malam di mana kami merasa cukup untuk semua permainan kami. Malam di mana kebosanan melanda kami, enam anak kecil yang haus akan kesenangan dan hiburan. Kami merasa sudah cukup bermain bola, petak umpet, dan seluruh permainan yang ada di dunia ini. Kami butuh kesenangan lain, kesenangan yang lebih dari bermain. Ya, kami butuh hiburan yang tidak biasa!


"Memasuki rumah sakit tua?" Cetus Alves, si profesor gila. Ialah maniak ide kami, yang selalu memberi ide tak terbayangkan.


"Apa kau sudah gila?? Kita tak tahu apa yang ada di dalamnya, dan kita bisa-bisa tak selamat!" Seru Carlos, si kutu buku. Kalau mau aku menyebutnya pengecut, namun ia adalah teman yang paling setia.


"Maka kita takkan pernah tahu kalau tak pernah mencoba!" Ujar Pablo. Ia juga maniak, sama seperti Alves. Hanya bedanya, Pablo merupakan anak yang terlalu bersemangat untuk mencoba hal-hal baru, tanpa memikirkan risikonya. Dan poin pentingnya, Pablo hampir selalu mendukung rencana Alves, segila apapun itu.


"Aku pikir Carlos benar," ujar Juan, si manusia baik, "Kita tidak tahu apa yang akan terjadi jika kita masuk ke dalam rumah sakit itu. Lagipula, ini sudah larut malam. Orangtua kita pasti mencari kita."


"Ayolah, hidup hanya sekali!" Kata Roberto. Ia meluruskan rambutnya, "Kita harus menikmati hidup, selagi masih memilikinya!"


"Justru itu, kita harus menghindari bahaya!" Seru Carlos.


"Kau hanya tak tahu makna hidup, Carlos." Ujar Roberto, kembali menyisir rambut dengan tangan.


"Hey, kita harus voting! Karena tiga di antara kita setuju dan dua di antaranya menolak, kita butuh penengah!" Seru Alves.


"Baiklah, kita voting!" Kata Pablo. Sepertinya, memang Pablo hanya pengikut setia Alves.


Semua menatapku.


"Bagaimana menurutmu, Sebastian? Ya, atau tidak?" Tanya Alves.


Aku berpikir. Menimang sejenak, kemudian mengangguk.


"Empat lawan dua!" Seru Pablo. Ia kegirangan, seperti saat tim sepakbolanya memenangkan turnamen tahunan.


"Aku hanya sudah mewanti-wanti. Namun, kalau kalian masuk, aku juga ikut masuk." Kata Juan. "Bagaimana, Carlos?"


Carlos menatap Juan. Lama ia terdiam, akhirnya melempar pandang ke semua anak.


Ia menghela nafas.


"Baiklah."


*****


"Uhh, semak ini mengganggu pandanganku."


Carlos menyibak daun ilalang dengan tangan cokelatnya. Ia mengalihkan pandang ke sekitar, menatap satu-persatu temannya yang mengeluhkan hal sama.


"Huh, kau beruntung Sebastian, kau pendek, jadi mudah menyelinap." Ujar Roberto padaku. Aku mendongak untuk melihat cowok tertinggi di antara kami itu menyisir rambut dengan tangan untuk kesekian kalinya.


"Hei, kita hampir sampai. Ayolah, jangan mengeluh!" Tegas Alves. Ia lantas menunjuk ke arah depan kami.


"Lihat, di sana. Beberapa meter menyibak rumput, maka kita sampai." katanya.


Dingin mulai menusuk tubuh. Beberapa anak mulai menggigil. Bahkan baju kami tidak sanggup menghalau dinginnya udara malam.


Namun, kami meneruskan perjalanan. Beberapa meter lagi, dan kami tiba di depan rumah sakit tersebut.


*****


"Rumah Sakit Radioterapi."


Pablo membaca papan nama rumah sakit itu. Ia berjalan masuk ke dalam, diikuti kami.


"Celakanya, kita tidak membawa senter untuk penerangan lebih. Jadi, kita terpaksa menggunakan penerangan minim dari bulan." tukas Carlos.


"Tak apa." Roberto berujar – sembari tak lupa menyisir rambut dengan tangan, "Kita tidak datang untuk mencari sesuatu. Sesuatu itu yang datang pada kita."


"Heh! Jaga ucapanmu!" Seru Carlos.


Lorong rumah sakit nampak suram tanpa cahaya sedikitpun, selain cahaya bulan yang menyusup lewat jendela. Pintu-pintu kamar pasien di sisi kanan lorong mengguratkan keputusasaan pasien yang siap ditemui ajal.


Begitu kelam. Sunyi. Bahkan serangga tak ingin berbunyi, atau suara entah apalah itu. Tak ada suara kecuali langkah kaki kami dan lontaran komentar ketika menemukan sesuatu yang aneh, misal:


"Hei, ruangan ini cukup luas, sepertinya dulu pasien di sini memiliki kamar pribadi seperti di rumahnya sendiri?"


Atau,


"Wah, lihat, ada gambar bola yang berpecah menjadi dua! Aku jadi mengingat gumpal daging yang dimasak ibuku.."


Hingga kami merasa bosan untuk berkomentar. Terlalu malas rasanya untuk sekadar berbicara, hingga kesunyian hanya diisi langkah kaki kami. Sampai suatu saat, seseorang dari kami menyadari kebosanan ini dan berceletuk,


"Hei, aku bosan berkomentar. Bagaimana kalau kita melakukan sesuatu jika menemukan hal unik?"


Ide gila tercetus dari kepala Alves. Si sinting itu selalu memiliki ide cemerlang untuk mengusir kebosanan.


"Aku setuju!" dukung Pablo segera.


"Apa yang akan kita lakukan?" tanya Juan.


"Apa yang membuat kita senang tentunya,"


Alves tertawa tak waras,


"Adalah menghancurkannya."


*****


Kami tiba di salah satu ruangan terapi. Tak ada yang aneh di sini, aku mengakuinya. Kecuali, sebuah logam berbentuk kapsul di tengah ruangan.


"Apa itu?" tanyaku dan Pablo, hampir bersamaan.


"Aku tidak tahu." tukas Carlos.


"Benda ini cukup besar kalau dibilang kotak obat, namun cukup kecil kalau dimasuki manusia, bahkan anak kecil seperti kita." ujar Roberto, kembali menyisir rambutnya.


"Aku tak peduli logam apa ini," ujar Alves, "namun, sesuai yang kukatakan, aku akan menghancurkannya."


Alves mengambil sebuah batu besar.


"Hei Alves, kurasa kau bertindak cukup berlebihan!" seru Carlos.


"Bergabung, atau lihat saja!"


Alves menghantamkan batu besar itu ke dinding kapsul tersebut. Terlihat kapsul itu sedikit penyok karena hantaman Alves.


"Sepertinya seru," kata Pablo. Ia segera mengambil benda yang bisa digunakannya menghancurkan; yang bodohnya, itu adalah sebuah skalpel (pisau bedah).


"Hmmm, seru.." Roberto bergabung dengan pesta itu dan mengambil sebuah kayu yang cukup berat. Ia memukulkan kayu itu ke kapsul sekuat tenaga.


"Aneh, aku merasa sedikit pusing dan mual." kata Juan. Ia memegang kepalanya.


"Aku juga merasa pusing." balas Carlos.


"Hei, lebih baik kita pulang saja," kata Juan, "kepalaku berdenyut-denyut."


"Ya, aku setuju." Kataku.


"Dan melewatkan keseruan ini??" Kata Alves, "tidak, meski aku juga mulai merasa pusing, aku tidak akan pulang sebelum benda ini hancur total!"


"Benda itu mengandung hal mistis! Kutukan!" seru Carlos. Ia mulai kehilangan kesadaran.


Begitu Juan melihat Carlos pingsan, ia berteriak, "Hentikan ini dan mari kita pulang!"


"Tidak! Tidak! Tidak!" seru Alves. Ia masih memukulkan batu yang dipegangnya ke kapsul.


"Jangan egois!" balas Juan berteriak.


Alves memandang Juan, "Jangan berteriak padaku, sialan! Aku sedang fokus!"


"AAAHHHH!!!!! TANGANKU!!!"


Semua memandang ke arah sumber suara, termasuk aku. Ialah Pablo, tangan kanannya memegangi tangan kiri dan mulutnya meniupinya.


"T-tanganmu, Pablo..." Juan bergidik, "tanganmu bengkak!"


"J-jangan-jangan... Jangan-jangan, kapsul ini benar telah dikutuk!!" Roberto histeris. Ia melempar kayu di tangannya, kemudian menyadari sesuatu; tangannya juga mulai membengkak.


"Tidak ada yang namanya kutukan! Tidak ada yang namanya hantu!" bantah Alves, masih berusaha membuka kapsul itu.


"Kau pun juga Alves, lihatlah tanganmu!" seru Roberto. Ia menunjuk tangan Alves.


"Aku tahu! Tapi, ini tak ada hubungannya dengan kutukan!" sergah Alves.


"Lalu, apa?? Apa kalau bukan kutukan?!" Juan memandang ngeri tubuh teman-temannya yang membengkak, kemudian menyadari bahwa tangannya juga membengkak.


Alves tak menghiraukan ucapan Juan dan terus memukul.


Juan berteriak meminta penjelasan, "APA KALAU BUKAN KUTUKAN, HAH?!"


"ENTAH!!"


Alves masih memukul.


TRANG!


"Tapi,


TRANG!


"Yang jelas,


TRANG!


"Itu


TRANG!


"Tak ada sangkut pautnya


TRANG!


"Dengan kutukan!"


BRAKK!!


Dari arah kapsul itu, sebuah cahaya biru memukau memancar. Cahaya indah itu muncul di sela-sela retakan yang diciptakan Alves.


"I-indah..." gumam Alves, "indah sekali..."


"Tak pernah kulihat cahaya seindah itu..."


Kemudian, Alves jatuh pingsan.


"C-cahaya itu..."


Roberto pun pingsan, disusul Juan. Sementara, Pablo sudah dulu pingsan, semenjak ia menyadari tangannya membengkak.


*****


Aku berlari menyusuri lorong. Aku berusaha keluar dari rumah sakit ini dan mencari bantuan. Untunglah, ada jejak yang mengarahkanku ke jalan keluar.


Rambut Roberto.


Tanpa rontok yang ia timbulkan karena kebiasaannya menyisir rambut, aku takkan pernah bisa menemukan jalan keluar dari rumah sakit yang rumit ini. Persis hansel dan gretel beserta kacangnya.


Begitu tiba di pintu keluar, aku segera berteriak. Aku meneriakkan apapun dan menghampiri siapapun yang bisa menolong.


"Hei, lihatlah anak manis ini."


Dua orang mendekatiku dan mengelus rambutku. Ia melihat kalung di leherku.


"Sebastian, huh? Apa yang kau mau, anak manis?"


Ahh, tidak ada waktu bermain-main. Aku punya teman untuk ditolong!


"Apa– dia ingin memberitahu kita, Jeremiah!"


Aku lantas menggigit celana jeans pria itu dan menariknya, kemudian berlari memasuki rumah sakit terbengkalai itu.


"Rumah sakit terbengkalai itu??!" Seru salah seorang di antaranya.


"Sesuatu mungkin terjadi! Ayo ikuti anak anjing itu memasuki rumah sakit!"


*****


Beberapa orang berbaju hazmat menyisir lorong rumah sakit. Mereka tiba di ruang terapi.


"Tampak jelas, mereka mencoba memecahkan sebuah kapsul berisi sesium klorida dan terpapar Radiasi Cherenkov." ujar salah seorang berbaju hazmat itu.


"Setidaknya, mereka terkena paparan radiasi sebanyak 4,56 gray, di mana radiasi sebanyak 2 gray saja cukup untuk mengakhiri hidup seseorang." kata yang lain. Ia mengangkut kapsul tersebut.


"Berapa jumlah korban di ruangan ini?" tanya seseorang.


"Empat bocah, kurasa." jawab yang lain.


Aku mengendus bau radioaktif pekat di antara teman-temanku. Sampai aku menyadari sesuatu.


Tunggu...


Tunggu sebentar...


Apakah karena aku mulai merasa pusing sebab radioaktif atau memang...


Empat? Bukankah harusnya lima?


Roberto, Juan, Alves, Pablo, dan...


Dan...


Di mana Carlos??


- tamat -

Komentar